3
3 points

Siapa yang tidak mengenal sosok Ibu Risma, perempuan pertama yang menjadi Wali Kota Surabaya periode 2010 – 2015 dan 2016 – 2010. Beliau menggantikan Wali Kota sebelumnya, Bambang Dwi Hartono. Sosoknya selalu diingat ketika seseorang membahas permasalahan Kota Surabaya.

Latar Belakang Tri Rismaharini
Bu Risma
Tri Rismaharini (Istimewa)

Sosok yang biasa disapa Risma ini lahir pada tanggal 20 November 1961 di Kediri, Jawa Timur. Putri dari pasangan Muhammad Chuzaini dan Siti Mudjiatun ini merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.

Beliau menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Sebelumnya pada tahun 2015, ia memperoleh gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dalam bidang Manajemen Pembangunan Kota dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

risma
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (its.ac.id)

Beberapa tahun sebelum memperoleh amanat untuk menjadi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Hal ini terlihat melalui latar belakang  riwayat jabatannya, seperti Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya pada tahun 1997 dan terakhir menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya pada tahun 2008.

Pengharaan yang Diraih
Rismawati
Prestasi yang Diraih Tri Rismawati (istimewa)

Beberapa prestasi baik dalam negeri maupun luar negeri, serta tindakan-tindakan beliau yang selalu mengedepankan akan kebaikan bagi masyarakat Kota Surabaya menjadi warisan baik bagi kota dengan julukan Kota Pahlawan.

Selama masa kepemimpinannya, banyak penghargaan dan prestasi yang telah ia raih. Dari dalam negeri, beliau memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia dan Bung Hatta Anti Corruption Award pada tahun 2015. Di luar negeri, beliau memperoleh Penghargaan Lee Kuan Yew dalam kategori Special Mentions pada tahun 2018 atas jasa dalam pelestarian budaya dan pelaksanaan strategi yang berani dalam menjaga dan membangun area perkampungan.

Tindakan Beliau dalam Menghadapi COVID-19
(istockphoto.com)

Musibah besar terjadi pada tahun 2020, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini muncul pada pada April 2020 di Kota Surabaya dengan daerah pertama, yaitu di Surabaya bagian Utara. Kemunculan pandemi ini terus berkembang hingga pada hari artikel ini ditulis.

Sebanyak 921 orang di Kota Surabaya dinyatakan positif dari Covid-19. Hal tersebut membuat penanganan terhadap pandemi ini perlu dirancang dan dilaksanakan, khususnya di Kota Surabaya.

Baca juga: Tips Mencuci Tangan yang Benar dari WHO

Kemunculan Covid-19 di Kota Surabaya melahirkan sebuah tanggung jawab yang besar bagi Risma pada periode kedua kepemimpinannya di Kota Pahlawan ini. Dengan upaya dan tindakan, baik berupa pencegahan maupun penanganan, Risma berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah pandemi ini.

Tindakan yang dilakukan beliau, semisal dalam hal pencegahan dengan memberikan edukasi kepada RT/RW, pengelola mal, hingga perkantoran untuk mewaspadai penyebaran pandemi COVID-19. Lalu memberikan masker serta sarung tangan kepada pedagang unggas di seluruh pasar di Surabaya serta mempersiapkan ruang sterilisasi di RSUD Bhakti Dharma Husada dan RS Soewadhie sebagai persiapan jika ada pasien PDP COVID-19. 

RSUD Soewandhie Surabaya (rsudbdh.surabaya.go.id)

Lebih lanjut ketika telah ada pasien yang terjangkit pandemi COVID-19 di Surabaya, Risma melakukan berbagai hal yang lebih banyak lagi. Mulai dari mengeluarkan keputusan tentang pembatasan mobilitas dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, menciptakan laman Surabaya Tanggap COVID-19 sebagai layanan informasi terkait COVID-19 di Surabaya, hingga melakukan perumusan atau perencanaan strategi bersama dalam penanganan pandemi COVID-19 baik dengan elemen masyarakat di Surabaya serta dengan United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pacific (Aspac).

Baca juga: 5 Hal Positif yang Bisa Dilakukan Selama #dirumahaja

Tindakan yang dilakukan oleh Risma menjadi sebuah contoh yang baik bagi kota-kota lain di Indonesia. Mulai dari kesadaran, keinginan, dan kegigihan, serta kemampuan untuk melakukan kolaborasi, menjadikan beliau sebagai sosok yang berbeda, terutama dalam hal penanganan COVID-19 di tingkat kota.

Pendekatan Kepemimpinan
Tri Rismaharini (istimewa)

Upaya beliau secara tidak langsung juga menunjukkan bagaimana karakteristik beliau, menggambarkan bahwa beliau adalah seseorang yang menggunakan pendekatan kepemimpinan yang integratif. Sebuah pendekatan yang selalu membawa keberhasilan dalam kepemimpinan beliau serta kesejahteraan bagi masyarakat Kota Surabaya.

Mengutip dari Gary Yukl, pendekatan integratif merupakan pendekatan yang melibatkan lebih dari satu jenis variabel kepemimpinan (perilaku, sifat, pengaruh proses, variabel situasional, dan hasil di lapangan), Sehingga hal tersebut menjadikan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang karismatik, yaitu pemimpin yang mencoba menjelaskan alasannya agar para pengikutnya bersedia melakukan upaya luar biasa dan membuat pengorbanan pribadi untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi.

Peran dari kepemimpinan integratif telah membawa Risma berhasil melakukan penyelesaian terhadap masalah-masalah warisan dari pemerintahan sebelumnya. Permasalahan seperti Gang Dolly dan pengelolaan sampah yang kurang efektif menjadi jalan bagi Risma untuk menunjukkan kinerja dengan menggunakan pendekatan kepemimpinan integratif.

leadership risma
(istockphoto.com)

Pendekatan kepemimpinan integratif menghasilkan sebuah paduan antara beberapa pendekatan, seperti pendekatan perilaku yang dapat dilihat dari keberanian Risma dalam menyelesaikan sekaligus melakukan penutupan total Gang Dolly di Kota Surabaya.

Risma juga berhasil dalam mengatasi masalah sampah di Surabaya dengan pendekatan situasional. Beliau menghasilkan inovasi baru melalui kebijakan beliau yang berkaitan dengan permasalahan ini, yaitu menciptakan moda transportasi publik dengan sistem pembayaran melalui pemilahan sampah dengan nama Surabaya Bus.

Mengutip dari Gary Yukl, pemimpin dengan pendekatan integratif akan menghasilkan pemimpin yang karismatik. Risma dapat diakatakan seorang pemimpin yang karismatik dengan upaya dan kebijakan yang beliau ciptakan. Berdasarkan hasil riset Surbaya Survey Center, tingkat kepuasan masyarakat Kota Surabaya sebesar 78,4 persen. Ini artinya beliau mampu membuat masyarakat patuh dan mengaku puas dengan kinerja Pemkot Surabaya.

Bagaimana menurut kamu xtra-friends? Semoga informasi tentang Ibu Risma di atas bermanfaat ya. Kita dapat mengambil pendekatan kepemimpinan yang beliau gunakan. Jangan lupa follow instagram & facebook kita untuk dapat informasi menarik dan terupdate lainnya. Selalu jaga kebersihan dan kesehatanmu serta orang-orang di sekelilingmu, ya!


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format