Tuesday, December 1, 2020
Home News 7 Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Meningitis (Radang Selaput Otak)

7 Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Meningitis (Radang Selaput Otak)

Hallo xtra-friends! Sebuah kabar duka tiba-tiba mengejutkan dunia musik Indonesia, salah satu penyanyi kebanggaan tanah air, Glenn Fredly menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (8/4/2020) malam. Dikabarkan almarhum mengidap penyakit meningitis sejak beberapa tahun terakhir.

Untuk kamu yang masih belum tahu tentang penyakit ini, berikut xtratimes akan membahasnya secara lengkap mulai dari apa itu penyakit meningitis, tanda-tanda serta gejalanya, penyebab, faktor risiko, cara mencegah, dan pengobatan yang bisa dilakukan.

Definisi penyakit meningitis

alat, bekerja, berambut cokelat
(pexels.com)

Dikutip dari website hellosehat, meningitis atau radang selaput otak adalah infeksi yang menyebabkan radang selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Penyakit ini dapat menular dari kebiasaan berbagi makanan atau minuman pada orang lain.

Yang berpotensi terkena meningitis

anak, bayi, bersama
(pexels.com)

Penyakit ini dapat terjadi pada setiap rentan usia. Namun, paling sering menyerang orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti anak-anak, orang tua, dan orang dengan HIV/AIDS.

Tanda & gejala meningitis

banyak pikiran, capai, depresi
(pexels.com)

Dikutip dari hellosehat, gejala awal meningitis serupa dengan flu (influenza). Gejalanya bisa berkembang dalam waktu hitungan jam atau beberapa hari. 

Tanda dan gejala meningitis yang biasa muncul: 

  • Demam dan menggigil, terutama pada bayi baru lahir dan anak-anak 
  • Perubahan kondisi mental, contohnya seperti kebingungan
  • Mual dan muntah 
  • Sensitif terhadap cahaya (photophobia
  • Sakit kepala parah 
  • Leher kaku
  • Sering pingsan 

Kebanyakan orang dengan meningitis akibat virus ringan sembuh dengan sendirinya dalam 7 hingga 10 hari. Beberapa tanda klasik kondisi ini termasuk sakit kepala, demam, dan leher kaku (kaku kuduk).

Kemungkinan ada tanda­-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila merasa memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, saran terbaik adalah langsung konsultasikan dengan dokter.

5 Penyebab meningitis (bakteri, virus, jamur, parasit, non-infeksi)

bahan kimia, belajar, berbayang
(pexels.com)

Penyakit ini paling sering disebabkan oleh virus, namun dalam beberapa kasus dapat disebabkan oleh bakteri atau jamur. Radang selaput otak akibat virus cenderung tidak terlalu parah dan kebanyakan orang bahkan bisa sembuh sepenuhnya tanpa pengobatan. Di sisi lain, radang selaput otak akibat jamur adalah jenis yang termasuk langka. Ini bisa terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Meningitis paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus yang dimulai dari bagian lain pada tubuh, seperti telinga, sinus, dan tenggorokan. Penyebab lain termasuk bakteri, jamur, parasit, bahan kimia, obat-obatan, dan tumor. Berikut penjelasan soal penyebab radang selaput otak berdasarkan jenis-jenisnya:

1. Meningitis bakteri

Jika penyebab infeksi adalah bakteri, bakteri tersebut termasuk: Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniac, Listeria monocytogenes, Escherichia coli, Klebsiella sp., dan Streptococcus grup B. Bakteri. Bakteri itu menyebar melalui pernapasan dan sekresi tenggorokan (batuk, berciuman).

Dalam beberapa kasus, radang selaput otak karena bakteri muncul ketika bakteri masuk melalui aliran darah di sinus, telinga, atau tenggorokan. Bakteri bisa melakukan perjalanan ke otak melalui aliran darah.  Ini dapat menjadi penyakit yang sangat serius. Meningitis bakteri dapat mengancam jiwa atau menyebabkan kerusakan yang serius otak.

Bakteri yang menyebabkan radang selaput otak dapat menular ketika seseorang batuk atau bersin. Jika kamu atau anak berada di dekat orang dengan meningitis bakteri, segera hubungi dokter untuk pencegahan. 

2. Meningitis virus

Jika penyebab infeksi adalah virus, beberapa jenis virus tersebut adalah: virus influenza, virus herpes simplex, virus varicella zoster, virus West Nile, virus limfositik koriomeningitis, dan virus campak (mumps dan measles).

Meningitis virus adalah kondisi yang lebih umum daripada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Beberapa virus dapat memicu penyakit ini, termasuk virus yang menyebabkan diare. 

3. Meningitis jamur

Meningitis jamur lebih jarang terjadi dibandingkan dengan kondisi yang disebabkan oleh bakteri ataupun virus. Orang yang sehat sangat jarang terkena infeksi ini. Kondisi ini disebabkan oleh jamur yang menginfeksi tubuh dan menyebar melalui aliran darah dan masuk ke otak atau saraf tulang belakang.

Jamur yang paling umum menyebabkan kondisi ini adalah Cryptococcus, Blastomyces, Histoplasma, Coccidioides. Seseorang dengan masalah kekebalan tubuh, misalnya karena mengidap penyakit AIDS, lebih berisiko terkena radang selaput otak yang diakibatkan oleh jamur.

4. Meningitis parasit 

Jenis kasus radang selaput otak ini lebih langka dari meningitis virus atau bakteri. Kondisi ini disebabkan oleh parasit yang ditemukan dalam tanah, kotoran dan beberapa hewan dan makanan, seperti siput, ikan mentah, dan unggas.

Radang selaput otak akibat parasit tidak menular dari orang ke orang. Parasit ini menginfeksi binatang atau bersembunyi di makanan yang kemudian dimakan manusia. Salah satu jenis radang selaput otak akibat parasit yang sangat jarang, yaitu meningitis amebic, adalah kondisi yang mengancam jiwa.

Jenis ini disebabkan ketika salah satu dari beberapa jenis amoeba memasuki tubuh melalui hidung saat berenang di danau, sungai, atau kolam yang terkontaminasi. Parasit jenis ini dapat menghancurkan jaringan otak dan pada akhirnya menyebabkan halusinasi, kejang, dan gejala serius lainnya.  

5. Meningitis non-infeksi

Meningitis jenis ini adalah yang tidak disebabkan oleh infeksi. Jenis ini disebabkan oleh kondisi atau perawatan medis lainnya. Ini termasuk:

  • Lupus
  • Cedera kepala
  • Operasi otak
  • Kanker
  • Pengobatan tertentu.

Faktor risiko meningitis

ahli bedah, dokter, kesehatan
(pexels.com)

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseirang mengalami meningitis adalah:

  • Tidak melakukan vaksinasi radang selaput otak 
  • Usia: Sebagian besar kasus radang selaput otak akibat virus terjadi pada anak berusia di bawah dari 5 tahun. 
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah 
  • Orang yang baru saja menjalani transplantasi sumsum tulang
  • Diabetes 
  • Hamil: Jika sedang hamil, kamu meningkatkan risiko tertular listeriosis (infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan radang selaput otak)

Cara Pencegahan meningitis

analgesik, antibiotik, antibiotika
(pexels.com)

Menurut Dokter dari Brigham and Women’s Hospital di Boston, Amerika Serikat, Paul Sax, mengatakan ada vaksin yang bisa mencegah penyebab meningitis akibat bakteri, yakni vaksin H. influenzae tipe b (Hib). Tak hanya itu, ada juga vaksin konjugat pneumokokus yang bisa digunakan untuk anak-anak usia 11 dan 12 tahun. Ada pula vaksin meningokokus B, serogroup B, dan vaksin polisakarida pneumokokus 23-valent, untuk anak-anak dan orang dewasa.

Pengobatan penyakit meningitis

dalam ruangan, darah, dewasa
(pexels.com)

Mengutip dari website hellosehat pengobatan untuk meningitis (radang selaput otak) tergantung pada penyebabnya. Untuk infeksi virus, dokter akan mengobati gejala dan menunggu untuk infeksi dapat sembuh dengan sendirinya. Untuk infeksi bakteri, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit agar dapat dipantau oleh dokter dan perawat. 

Pengobatan biasa berbentuk terapi antibiotik intravena, minum banyak cairan dan istirahat. Antibiotik digunakan untuk mengobati bakteri radang selaput otak. Antibiotik tidak dapat mengobati meningitis virus. Obat antivirus dapat diberikan kepada orang-orang dengan herpes meningitis. 

Dilansir dari Healthline yang dikutip dari hellosehat, cara mengobati meningitis akibat jamur adalah dengan obat-obatan antijamur. Sementara, pengobatan radang selaput otak akibat akibat parasit bertujuan untuk meringankan gejala. Tergantung pada penyebabnya, jenis ini lebih baik ditangani tanpa antibiotik.

Bagaimana menurut kamu xtra-friends? Semoga informasi di atas bermanfaat ya. Jangan lupa follow instagram & facebook kita untuk dapat informasi menarik dan terupdate lainnya. Selalu ingat untuk konsultasikan kondisi kamu pada dokter. Selalu jaga kebersihan dan kesehatanmu serta orang-orang di sekelilingmu, ya!

Jefri Pranata
Instagram: @jefripranata1 Email: jefripranata9@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Membangun Kepercayaan (trust) ala Tri Rismaharini di Tengah Pandemi

Risma telah menunjukkan bagaimana seorang pemimpin perempuan di level daerah bisa berhasil menumbuhkan trust masyarakat di tengah pandemi.

Gaya Kepemimpinan Transformasional Edy Rahmayadi dalam Menghadapi COVID-19 di Kota Medan

Siapa yang tidak kenal dengan Edy Rahmayadi, beliau adalah Gubernur di Sumatera Utara dan merupakan seorang mantan Letnan Jenderal saat masih bekerja di bidang...

Menuju Smart ASN 2024: Meninjau Kesiapan Penerapan FWA di Kementerian PUPR

Wacana mengenai ASN yang dapat bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi atau Flexible Working Arrangement (FWA) yang saat ini lebih dikenal dengan Work From Home (WFH) telah disampaikan...

Recent Comments