15
30 shares, 15 points

Seseorang dalam hidupnya ingin dapat menjadi manusia yang ‘seutuhnya’. Maksud dari manusia yang ‘seutuhnya’ adalah ia dapat menerima kelebihan maupun kekurangannya sendiri, dan berusaha untuk mencintainya. Mencintai dalam aspek minat/passion, karakter, visi dan misi hidup, sifat-sifat pribadi, dan lain-lain.

Tetapi bagaimana jika hal yang ia percaya sebagai jati diri adalah sebuah kebenaran yang pahit dan tidak sesuai dengan aturan manusia pada umumnya? Seperti Einar Wegener (Eddie Redmayne), seorang pria yang percaya dirinya adalah wanita yang terperangkap di dalam tubuh yang salah. Kisah ini dibalut secara artistik dalam film besutan Tom Hooper (The King’s Speech, Les Miserables), The Danish Girl.

Diawal film, penonton langsung diperlihatkan scene pemandangan dan suasana kota Kopenhagen, Denmark pada era 30-an yang terlihat sejuk, indah dan menenangkan. Kemudian kisah ini dimulai dengan adegan di sebuah pameran lukisan dimana Einar Wegener hadir sebagai pelukis terkenal ditemani oleh istrinya Gerda Wegener (Alicia Vikander).

Sebenarnya Gerda adalah seorang pelukis portrait berbakat tetapi menurut galeri lukisan setempat, lukisan Gerda belum memenuhi standar yang diinginkan untuk bisa dipanjang dalam galeri tersebut. Hal itu karena lukisan Gerda tidak menggambarkan subjek portrait yang cukup menarik untuk sebuah lukisan kelas atas. Dengan begitu, Gerda membutuhkan model yang pas untuk lukisannya agar bisa diterima.

Suatu hari ‘model’ Gerda yang menjadi objek lukisan tiba-tiba berhalangan datang, padahal lukisannya hampir selesai, tinggal melukis bagian punggung kakinya saja. Berawal dari situ Gerda meminta Einar Wegener untuk membantunya dengan menjadi model pengganti. Einar sebagai suami yang mendukung pekerjaan sang istri pun bersedia menuruti keinginannya.

Adegan selanjutnya memperlihatkan Einar Wegener bersiap diri untuk menjadi model pengganti. Ia memakai stocking dan sepatu balet sambil memegang gaun putih yang disiapkan oleh Gerda. Sekilas dari adegan tersebut, sebenarnya penonton sudah bisa melihat kecenderungan Einar Wegener yang sangat menikmati dan menghayati perannya sebagai model wanita.

One thing leads to another, Gerda pun semakin sering melukis Lili. Lili adalah nama samaran Einar Wegener saat menjadi model wanita. Lukisan-lukisan Gerda yang menggambarkan Lili sebagai subjeknya pun mendapatkan respon sangat positif dari pihak galeri dan membuat Gerda tertarik untuk melanjutkan karyanya tersebut dengan menjadikan Lili (Einar versi perempuan) sebagai model lukisan selanjutnya.

Obsesinya tersebut terseret semakin jauh, Gerda mulai mengajari Einar bertingkah laku seperti wanita agar dapat menghayati perannya lebih dalam, dimana hal itu justru membangkitkan kecenderungan masa kecil Einar yang terkubur selama bertahun-tahun, yaitu kecenderungan untuk menjadi seorang perempuan.

Film ini menyuguhkan kita akan pergolakan batin yang dialami oleh Einar Wegener tentang jati dirinya dan Unconditional Love yang dimiliki Gerda Wegener terhadap suaminya. Bagaimana proses mereka melewati pasang-surut dalam hubungan sampai pada akhirnya menerima kenyataan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Meskipun enam tahun pernikahan mereka menjadi taruhan atas perjuangan Einar Wegener untuk menjadi wanita seutuhnya.

Di film ini Eddie Redmayne patut mendapat presiasi yang luar biasa karena gaya aktingnya yang selalu diluar zona aman setelah sebelumnya memerankan Stephen Hawking dalam The Theory of Everything dan film fiksi terkenal Fantastic Beasts and Where to Find Them sebagai Newt Scamander. Dalam film The Danish Girl, Eddie Redmayne sangat baik dalam memerankan dua peran sekaligus yaitu Einar Wegener dan Lili Elbe.

Peran Lili Elbe dibawakan dengan penuh penghayatan sebagai seorang wanita yang feminine, jauh dari sisi maskulinnya sebagai Einar. Selain itu Alicia Vikander juga pantas mendapatkan Best Performance by an Actrees in a Supporting Role pada Academy Award, USA 2016 karena perannya sebagai Gerda Wegener, istri Einar yang cukup emotional dan sabar dalam menerima kenyataan pahit tentang suaminya tersebut.

Secara pribadi, saya selalu tertarik dengan adegan  argument scene dalam sebuah film karena membuat jalan cerita menjadi lebih intense, tak terkecuali argument scene dalam film ini. Pertama, saat Gerda meminta penjelasan Einar tentang hubungannya dengan Henrik Sandahl (Ben Whishaw).

Sebelumnya Gerda memergoki mereka berciuman dalam sebuah pesta dengan Einar berdandan sebagai Lili. Kedua, saat Gerda pulang dengan basah kuyup setelah ‘digoda’ oleh Hans Axgil (Matthias Schoenaerts) teman masa kecil Einar di perayaan galeri lukisan pertamanya di Prancis.

Saat sampai dirumah Gerda berharap dapat menemui suaminya, Einar, tetapi yang ia temukan justru Einar yang sudah berubah menjadi Lili sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Adegan tersebut cukup intense karena Gerda dengan putus asa meminta Lili untuk mengembalikan sosok suaminya-Einar, kembali ke kehidupannya.

Menurut saya film ini sangat baik dalam mengangkat isu transgender ke dalam sebuah film. Cerita ini diangkat dari sebuah novel fiksi berjudul sama karya David Ebershoff. Buku tersebut mengambil referensi dari buku diari asli milik Lili Elbe.

Isu transgender memang jarang sekali diangkat dalam tema perfilman selain Baby Don’t Cry (1999), Women in Revolt (1971), The Crying Game (1992), yang sebelumnya juga berhasil mengangkat isu ini ke layar lebar. Saat ini, kemungkinan orang yang mengalami hal sama seperti yang dialami Einar Wegener lebih beruntung, dibandingkan orang di tahun 30-an.

Pada masa itu masyarakat masih memandang penyimpangan gender sebagai hal yang tabu dan sulit diterima oleh khalayak umum. Ditambah dengan teknologi yang belum cukup canggih untuk melakukan operasi penggantian kelamin sehingga resiko kematian sangat tinggi bagi pasien yang melakukannya.

Kini, masyarakat sudah cukup concern dengan masalah LGBT dan dapat diterima sebagai hak pribadi dalam memilih jalan hidupnya diluar konteks keyakinan masing-masing. Selain itu, teknologi sudah semakin canggih sehingga dapat menurunkan resiko pasien saat melakukan operasi penggantian kelamin. Terbukti dengan adanya sejumlah operasi yang berhasil menangani kasus tersebut.

Secara keseluruhan alur cerita dalam film ini mudah diikuti. Penonton dimanjakan dengan pemandangan negara Denmark dan Prancis pada era-30an. Gaya bangunan dan kostum yang serba vintage membuat penonton ingin terjun kedalam era klasik tersebut.

Dari segi penokohannya pun cukun baik, semua peran saling mengisi keseluruhan cerita. Bahkan peran kecil tokoh Henrik Sandahl sebagai pria yang menyukai Lili Elbe dan Hans Axgil sebagai teman masa kecil Einar Wegener diperlukan untuk mengembangkan cerita dan menguak masa lalu Einar. Rating untuk film ini yaitu 4,8 of 5 stars.


Like it? Share with your friends!

15
30 shares, 15 points

What's Your Reaction?

Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Bangga Bangga
1
Bangga
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format