Apakah anda sudah menonton video di atas? lucu, bukan? Ada-ada saja berbagai macam tingkah anak kecil ketika menyebut benda tersebut . Namun, hal ini menarik untuk diteliti. Anak itu mengeja kata dalam bahasa Indonesia dengan lancar, tetapi ketika anak itu membaca kata tersebut, bunyinya berubah menjadi bahasa Jawa. Apa yang terjadi?

Hal ini dapat kita analisis memakai teori segitiga semiotik oleh C.K. Odgen dan I.A. Richards. Manusia memiliki tiga komponen dalam otaknya, yaitu tanda, referensi, dan konsep. Semua itu akan membentuk segitiga di mana tanda dan referensi membentuk dua sudut di bawah dan konsep membentuk satu sudut di atas, sehingga terbentuklah segitiga.

Segitiga tersebut digunakan untuk merepresentasikan sesuatu. Lambang ialah tanda bahasa atau biasa kita sebut sebagai huruf. Referensi ialah acuan objek (bendanya). konsep ialah gabungan antara lambang dan referensi. Contoh: Kursi -> tanda bahasanya ialah huruf K, U, R, S, I. Referensinya ialah wujud/gambar kursi itu sendiri. Konsep ialah gabungan antara tanda bahasa dan referensi objek tersebut -> kita bisa membayangkan wujud kursi di otak kita akibat gabungan antara tanda bahasa dan referensi objek tersebut, sehingga terjadilah konsep kursi di otak kita.

Masuk ke kasus. Ketika anak ini mengeja pepaya, ia dapat mengeja huruf P,E,P,A,Y,A satu per satu dengan lancar. Hal ini masih di tahap tanda bahasa -> ia mengeja tanda bahasa (huruf). Ketika ia membaca kata tersebut, ini sudah memasuki tahap konsep. Tanda/huruf P,E,P,A,Y,A dalam bahasa Indonesia yang ia baca mungkin masih terasa asing di otaknya. Tanda P,E,P,A,Y,A tidak sesuai dengan referensi objek yang telah dimodifikasi dengan tanda G,A,N,D,U,L yang tersimpan di otaknya. Di sini terjadi gesekan antara tanda bahasa dengan referensi objek yang tandanya (huruf) telah dimodifikasi dalam bahasa Jawa.

Akhirnya ia lebih memilih refernsi objek yang ada di otaknya untuk disesuaikan dengan tanda (huruf) dalam bahasa Jawa yang ada di otaknya, sehingga terjadilah perubahan penyebutan objek tersebut dari ”pepaya” dalam bahasa Indonesia menjadi ”gandul” dalam bahasa Jawa. Maka, berhati-hatilah dalam merencanakan kebijakan bahasa dalam sebuah keluarga. Selama bahasa itu dapat berguna bagi anak tersebut untuk masa depannya, ajarilah anak tersebut dalam bahasa itu. Bahkan, dalam negara.

Bagaimana pemerintah merencanakan kebijakan bahasa nasional di negaranya untuk kepentingan nasional dan internasional, tetapi di satu sisi juga tidak membuat pemakai bahasa di suatu daerah lain merasa iri karena bahasanya tidak digunakan. Ini sangat sesuai dengan motto Badan Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, pelajari bahasa asing.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Enrile Fariz

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format