‘’Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Itu merupakan kalimat motivasi yang selalu dilontarkan oleh guru bahasa dan sastra Belanda Minke. Namun, apakah Minke dapat melakukan sesuai dengan pesan gurunya itu?

Sukses dengan Gadis Pantainya pada tahun 1960-an, Pram kembali menelurkan kumpulan cerita tetralogi pulau buru atau bumi manusia. Tetralogi pulau buru dibuat saat pram menjalani masa pengasingan di kamp kerjapaksa tanpa proses hukum pengadilan di pulau Buru atas tuduhan simpatisan PKI pada masa orde baru.

Bumi Manusia
Karya-karya Pramoedya Ananta Noer (hipwee.com)

Tetralogi ini terdiri dari empat cerita dengan Minke sebagai tokoh utamanya yang mencoba untuk keluar dari kepompong kejawaanya menuju manusia bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Cerita ini diawali dengan pengakuan tokoh Minke sebagai pencerita yang mengalami (Ik-vertellend en –belevend). Secara keseluruhan cerita juga dipakai sudut pandng pencerita orang pertama sebagai pencerita.

Siapa Minke?

Minke adalah seorang siswa HBS (Hollandsche Basische School) di dalam tetralogi bumi manusia. Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya bahwa tidak sembarang orang bisa masuk ke sekolah bergengsi tersebut. Minke memang berasal dari keluarga bangsawan. Itu dapat dilihat dari ayahnya yang menjabat sebagai Bupati.

Sikap moderat Minke membuat gesekan terhadap sikap konservatif yang dimiliki oleh keluarganya, terutama kepada ayahnya yang menjabat sebagai bupati. Sifat feodalis ayahnya sangat kontras dengan sifat moderat Minke. Dia bosan dengan adat istiadat jawa yang menharuskan bawahan harus tunduk kepada atasan tanpa pandang bulu, seperti jalan merangkak saat menghadap ayahnya dan memercayai tahayul. Sementara Minke berpendapat bahwa semua orang memiliki hak yang sama dalam menjalani hidupnya.

Minke yang juga buah pikiran dari penulis terinspirasi dari tokoh moderat Max Havelaar yang menentang segala tindakan menyimpang yang dilakukan baik oleh pejabat kolonial maupun pejabat pribumi sendiri. Meskipun begitu, ibunya cukup mendukung gagasan-gagasan minke selama ia tidak merugikan orang lain walau masih banyak sifat konservatif yang dimiliki ibunya.

Penokohan

Gambaran kolonial dalam novel ini tidak selalu dicitrakan buruk. Ada tokoh Belanda yang membantu penderitaan pribumi seperti Juffrouw Magda Peters-guru bahasa dan sastra Belanda Minke, Kommer-seorang jurnalis, Maarten Nijman-Kepala Redaksi koran S.N v/d D. Asisten residen surabaya, serta . Namun, ada juga yang digambarkan antipati terhadap pribumi seperti robert mellema. Bahkan kulit putih mencoba masuk ke dalam dunia pribumi, seperti plot utama dalam novel ini yaitu kisah romansa minke dangan seorang gadis indo, anelis.

Anelis merupakan anak perempuan dari perkawinan campuran antara pribumi- dengan belanda-totok. Ia merupakan anak perempuan sekaligus pegawai adminstrasi di kantor ibunya, nyai ontosoroh. Anelis memiliki sifat teguh dan berani yang diwarisi oleh watak ibunya. Tapi hanya ada satu kelemahan yang melekat pada dirinya, ia tidak bisa kehilangan minke. Hal inilah yang terkadang membuat minke bimbang, di satu sisi ia harus menjalani perannya sebagai anak dan pelajar tapi di satu sisi anelis selalu menuntut untuk selalu berada disisinya.

Nyai ontosoroh digambarkan seperti metafora rakyat pribumi. Ia adalah pribumi totok yang dinikahi secara paksa oleh ayahnya dengan seorang Belanda totok, tuan Mellema. Ia diajarkan untuk menjadi orang eropa yang tangguh sampai pada akhirnya ia tidak memerlukan pertolongan suaminya sendiri karena suaminya telah mengkhianatinya.

Begitulah seperti gambaran relasi pribumi dengan eropa kebanyakan. Pribumi tidak akan menjadi kritis dan sadar bahwa ia ditindas jika ia tidak mengenyam pendidikan. Lalu ketika tuan Mellema hancur dan ternyata telah memiliki istri, ia jatuh dan mencoba berdiri sendiri layaknya pribumi yang mencoba bangkit dari penyiksaan yang dilakukan oleh pihak kolonial.

Kesimpulan

Bumi Manusia menghadirkan dimensi yang berbeda dalam cerita mengenai romansa sejoli yang mengalami jatuh bangun di kehidupan mereka. Hegemoni kekuasaan antara kolonial dengan feodal lokal sangat terjalin erat di sini , sehingga pribumi hanya menjadi pihak yang lemah dan menuruti segala apa yang diminta pihak oleh pihak yag berkuasa. Namun, keadaan ini berusaha ditentang oleh sifat moderat seorang pribumi Minke. Ketegangan yang terbangun dalam turut menjadi nilai tambah dalam cerita ini.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Enrile Fariz

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format